MAY DAY: PERJUANGAN ITU TENTANG PERLAWANAN BUKAN PERAYAAN
Sumber :
Buruh Demo Tuntut Kenaikan UMP 2026 Besok, Ini Jadwal dan Lokasinya
Dari zaman Yunani kuno hingga
terbentuknya demokrasi, arti perjuangan itu harusnya tentang perlawanan melawan
sistem yang monarki dan tidak adil namun entah kenapa seiring berjalannya waktu
definisinya bergeser. Perjuangan bukan lagi tentang melawan sistem yang monarki
dan tidak adil melainkan merayakan sistem yang hampir menuju monarki dan adil
secara tidak merata. Lagi-lagi yang di khawatirkan terjadi, ketika yang paling
berkuasa berhasil menarik simpati dengan janji-janji yang belum tentu bisa di
tepati, orang-orang sudah mulai tidak peduli lagi dengan jaminan sosial status terendah pekerja
selama mulut mereka penuh dan perut mereka kenyang.
Tahun lalu, peringatan hari
buruh pun dirayakan dengan pesta dan wajah-wajah yang penuh kebahagiaan, dengan
panggung megah yang dimeriahkan beberapa selebriti yang biasa dilihat dengan
handphone, dengan pidato yapping sang penguasa yang hanya di mengerti oleh
pengikut-pengikutnya. Apakah perjuangan kita selama ini hanya dibayar dengan
perayaan? Lalu buat apa korban-korban perjuangan yang nyawanya di renggut paksa
oleh ketimpangan dan ketidakadilan. Apakah mereka tidak tersinggung kalau
ternyata perjuangan yang mereka lakukan hanya dibayar dengan perayaan?.
Kalau saya jadi mereka si,
saya tersinggung, mengingat hal-hal apa saja yang sudah di ambil paksa oleh
negara, mengingat janji-janji apa saja yang ingin diberikan oleh negara, tapi
kan saya bukan mereka, jadi ya dengan berat hati, saya memohon, tolong jangan
jadikan saya seperti mereka yang namanya sering dipakai untuk memicu perjuangan
setelahnya hanya dibayar dengan perayaan.
Membayangkan betapa sedihnya mereka di alam sana saja hati saya sudah hancur, apalagi kalau disuruh membayangkan betapa sedihnya mereka kalau ternyata selama ini orang-orang yang berjuang menggunakan nama mereka ikut merayakan sistem yang hampir menuju monarki ini dan adil secara tidak merata bahkan wiji tukul yang tadinya rambutnya ikal jadi lurus setelah melihat orang-orang berlomba untuk mempertahankan takhta tanpa memedulikan strata dan kasta masyarakat akar rumputnya yang menderita.
MAY DAY: BEDAKAN ANTARA TIDAK ADA YANG MAU BERKORBAN DALAM PERLAWANAN DENGAN TIDAK ADANYA KORBAN DALAM PERLAWANAN
Sumber :
Contoh
Kejahatan Genosida dan Jenis Pelanggaran HAM di Indonesia
Bukan bermaksud untuk menyuruh
orang menjadi tumbal perjuangan tapi bukankah ketiadaan korban dalam sebuah
pergerakan kan bisa jadi suatu tanda kegagalan dalam diplomasi dan matinya
esensi perlawan. Orang-orang terjebak dalam romantisisme “perdamaian” padahal
terjebak dalam perlawanan yang pasif. Akan selalu ada perbedaan antara
perlawanan yang bersih dari korban karena sistem telah adil dengan perlawanan
yang mandul karena semua orang takut menjadi tumbal.
Contohnya, fenomena yang
terjadi saat ini. Kelas pekerja lebih memilih kenyamanan rapuh daripada
kebenaran yang beresiko. Kita sudah kehilangan martir dengan menggantinya
sebagai penonton. Padahal sejarah mencatat, hak-hak seperti jam kerja 8 jam,
cuti, jaminan Kesehatan yang dimiliki karyawan hari ini, tidaklah lahir dari
makan siang yang hangat antara buruh dengan penguasa, melainkan dari darah dan
air mata yang bercucuran di aspal jalanan.
Ketika tidak ada yang mau
berkorban dalam perjuangan maka perlawanan hanya menjadi baris-baris puisi yang
dibacakan di ruang ber AC. Ketiadaan “korban” dalam narasi perlawanan hari ini
sering kali bukan berarti kita telah menang melainkan kita telah dijinakan.
Jika kita menengok ke belakang pada masa “Orde Baru”, stabilitas adalah tuhan
yang disembah, rezim saat itu menciptakan ilusi bahwa tidak ada konflik antara
buruh dan pengusaha melalui konsep Hubungan Industrial Pancasila (HIP). Namun,
dibalik harmoni yang dipaksakan sejarah mencatat nama-nama seperti Marsinah dan
Munir yang merupakan martir dengan bukti-bukti perlawanan sejati yang selalu
dihadapkan dengan moncong senjata. Marsinah dan Munir bukan sekedar korban
perlawanan, mereka adalah anomali di sistem yang mencoba menghapus kata “Perayaan”
dari kamus rakyat.
Hari ini, kita menghadapi
jenis penjinakan yang berbeda namun serupa. Jika orde baru menggunakan Sepatu lars
untuk membungkam, sistem sekarang menggunakan kenyamanan rapuh melalui
konsumerisme untuk memastikan tidak ada lagi buruh yang berani turun ke jalan
dengan resiko kehilangan pekerjaan. Kita menjadi sangat pragmatis, dengan
ketakutan untuk menjadi korban sehingga membuat kita menerima kebijakan yang
menindas secara perlahan. Ketika saya masih bergaul dengan komunitas punk,
kondisi ini dinamakan Death of Rebellion, karena punk lahir dari kejengakan
terhadap sistem yang stagnan dan mapan namun di kondisi ini sistem yang stagnan
dan mapan justru malah dipertahankan. Semangat dalam punk merupakan sebuah
bentuk pengorbanan, mengorbankan keamanan ekonomi demi otonomi diri.
Saat ini kelas pekerja memilih
menjadi penonton dan takut mengambil resiko yang sebenarnya secara tidak sadar
kita sedang melanggengkan orde baru dalam bentuk yang lebih digital dan rapih. Perlawanan
yang aman merupakan bentuk kontradiksi, tanpa adanya kerelaan untuk kehilangan
sesuatu entah itu kenyamanan sesaat maupun status sosial, perjuangan buruh
hanya akan menjadi ritual kosong. Kita merayakan hak-hak yang dulu
diperjuangkan dengan nyawa sementara kita sendiri tidak memiliki nyali lagi
untuk mempertahankan hak-hak tersebut yang perlahan dipangkas oleh Undang-Undang
baru yang dipaksakan. Perlawanan akan mandul ketika relawan hanya berani
berteriak di kolom komentar namun tertunduk lesu saat berhadapan dengan meja
kontrak yang eksploitatif.
MAY DAY: KORBAN PERLAWANAN VS PEJUANG PERAYAAN
Sumber :
Kontradiksi ini nyata adanya,
ketika ada polarisasi antara mereka yang dikorbankan oleh sistem dengan mereka
yang merayakan sistem tersebut. Pejuang perayaan merupakan suatu bentuk anomali
modern, terhadap mereka yang mengenakan atribut perlawanan demi kepentingan
estetika politika dan validasi eksistensi di media massa.
Bagi pejuang perayaan, May Day
merupakan festival tahunan. Namun, bagi korban perlawanan, terutama mereka yang
namanya terhapus dari daftar gaji secara sepihak, dari kriminalisasi karena
menuntut hak merupakan pengingat luka yang kian hari makin menganga. Ketika
penderitaan massa diubah menjadi komoditas tontonan maka disitulah pengkhianat
ontologis muncul. Seperti kritikan yang pernah dikatakan oleg Guy Deboro,
kehidupan yang dulunya dihayati secara langsung kini bergeser menjadi sekedar
representasi. Perjuangan buruh telah didamaikan ke dalam panggung hiburan agar
taringnya tumpul.
Ketajaman kritik Guy Debord
mengenai masyarakat tontonan menemukan bentuk paling menjijikannya pada May Day
masa kini. Kita melihat para “Pejuang Perayaan” yang lebih sibuk memikirkan angle
foto dengan kepalan tangan untuk diunggah ke akun instagramnya ketimbang
memahami esensi dari tuntutan kawan di sebelahnya. Fenomena ini mengingatkan
kita pada cara orde baru memanipulasi simbol monument dan upacara untuk membius
kesadaran kelas. Bedanya, dulu negara yang memaksa sekarang kita melakukannya
secara sukarela demi validasi digital.
Pejuang perayaan merupakan
definisi dari komodifikasi perlawanan. Memakai kaos bergambar tokoh
revolusioner yang diproduksi oleh pabrik yang mengeksploitasi buruhnya, lalu
berdiri di panggung megah yang didanai oleh korporasi atau elite politik. Sebuah
bentuk pengkhianatan terhadap mereka yang benar-benar menjadi “Korban
Perlawanan”. Bayangkan buruh harian lepas yang harinya dipangkas, yang gajinya
bahkan tidak cukup untuk membayar biaya transportasi ke lokasi unjuk rasa
melihat panggung hiburan itu dari kejauhan. Bagi mereka, musik yang berdentum
keras bukan bagian dari nyanyian kemenangan melainkan suara pemakaman bagi
nasibnya.
Perspektif punk memberikan antithesis
yang keras karena Punk otentik dengan perlawanan perspektif ini menolak keras pergeseran
bentuk perlawanan untuk perjuang ke bentuk perayaan sebagai tontonan.
Berdasarkan perspektif punk, perayaan yang disponsori oleh penguasa dan diisi
oleh selebriti dan pidato manis penguasa akan menganggap hal ini sebagai bentuk
dari pelacuran intelektual, oleh sebab itu pejuang perayaan akan didefinisikan
oleh punk sebagai agen-agen sistem yang tugasnya memberi ilusi bahwa “Semua
Baik-Baik Saja” dan “Kita Sudah Berjuang”
DAMPAK SOSIAL DAN BUDAYA TERHADAP FENOMENA BADAI PHK BERDASARKAN PERSPEKTIF STRUKTURAL FUNGSIONAL
Sumber :
animasipalingbaru.blogspot.com/2022/01/25-animasi-bergerak-ac.html
Perspektif struktural
fungsional menyumbang pandangan tentang masyarakat sebagai sebuah organisme
atau mesin besar yang setiap bagiannya seperti institusi, perusahaan, atau
keluarga harus berfungsi dengan baik untuk menjaga keseimbangan. Fenomena badai
phk ini akan berdampak pada sosial dan budaya, akan terjadi disfungsi sistem
dan hilangnya keseimbangan dikarenakan perusahaan merupakan organ penting dalam
sistem ekonomi. Ketika, perusahaan gagal menjalankan fungsinya sebagai penyedia
mata pencaharian. Akibatnya, terjadi efek domino pada organisme lainnya.
Misalnya, keluarga, angka perceraian akan meningkat karena tekanan ekonomi dan
kualitas Pendidikan anak akan mengalami penurunan.
Budaya, “kerja keras” yang dianggap
sebagai jalan menuju kesuksesan mulai dipertanyan. Ketidakpercayaan kolektif
akan muncul terhadap stabilitas sistem ekonomi yang selama ini dianggap mapan.
Talcott Parsons memiliki skema bernama AGIL untuk menjelaskan bagaimana cara
sistem bertahan. Dalam skema AGIL, Perusahaan melakukan PHK sebagai bentuk
adaptasi ekstrim terhadap lingkungan ekonomi yang memburuk (Adaptation).
Secara, fungsional, fenomena ini merupakan operasi bedah untuk menyelamatkan
tubuh besar organisasi agar tidak mati total.
Fokus tujuan (Goal
Attaintment) sistem bergeser dari kesejahteraan sosial ke sekedar bertahan
hidup. Budaya kerja yang tadinya kolaboratif berubah menjadi kompetitif dan
individualis karena setiap orang berusaha agar tidak menjadi bagian yang
dibuang. PHK massal merusak integrasi sosial (Integration). Solidaritas organik
seperti kerja sama karena saling membutuhkan melemah karena kepercayaan antar
elemen masyarakat baik itu buruh maupun pengusaha retak. Akibatnya, potensi
konflik yang mengancam stabilitas nasional akan muncul. Selain itu nilai-nilai
budaya yang sudah lama dipelihara (Latency) seperti budaya loyalitas
pada perusahaan perlahan memudar, digantikan oleh budaya “kutu loncat” atau
gigi ekonomi sebagai mekanisme pertahanan baru.
Fenomena badai PHK juga memicu
munculnya Fenomena Anomi dimana masyarakat akan kehilangan norma-norma yang
selama ini jadi pegangan hidupnya. Merujuk pada pemikiran Emile Durkheim,
ketika aturan main yang ada di masyarakat seperti kerja sama dengan di gaji,
dan di gaji sama dengan hidup layak tiba-tiba hancur karena PHK, individu merasa
terasing dan bingung. Hal ini memicu peningkatan angka kriminalitas juga
gangguan Kesehatan mental sebagai respons atas hilangnya struktur hidup yang
teratur
Untungnya, perspektif ini
menawarkan sisi positif yang akan terdengar sangat dingin dan minim empati.
Perspektif ini memiliki keyakinan bahwa sistem akan selalu mencari titik
keseimbangan baru, misalnya munculnya entrepreneurship dadakan secara serentak
karena beralihnya tenaga kerja dari sektor formal ke sektor informal.
Masyarakat dipaksa untuk lebih mandiri dan tidak bergantung pada struktur
korporasi besar karena sistem akan “Memperbaiki dirinya sendiri” dengan menciptakan
struktur ekonomi baru yang lebih adaptif. Seperti syair yang yang pernah
disampaikan Wiji Thukul, “Besok pagi, kita ke pabrik. Kembali bekerja, sarapan
nasi bungkus, ngutang seperti biasa”.
KITA ADALAH KORBAN EFISIENSI TERHADAP CARA PERUSAHAAN MENGHADAPI FENOMENA BADAI PHK
Sumber :
Pin oleh نيسکي di aesthetic words | Kritik
seni, Humor lucu, Kutipan romantis lucu
Saat ini fenomena badai PHK
bukan hanya buah bibir semata, beberapa perusahaan sudah mulai menghadapi
fenomena ini akibat krisis ekonomi serta turunnya daya jual pada produk
perusahaan, akibatnya beberapa perusahaan mulai melakukan tindakan dengan cara
memangkas hari kerja pekerja harian lepas, sehingga ketimpangan gaji pun mulai
terasa oleh beberapa pihak dengan strata yang berbeda. Saat guncangan ekonomi
terjadi, meskipun Perusahaan tidak langsung melakukan PHK massal namun dalam
proses “penyelamatan tubuhnya” terdapat hierarki fungsional yang sangat amat
diskriminatif. Perusahaan melakukan effisiensi pada bagian eksternal yang
dianggap paling fleksibel yaitu pekerja harian lepas.
Beberapa bulan terakhir teman-teman
saya bercerita bahwa ia menerima gaji tidak sama seperti bulan-bulan
sebelumnya, dikarenakan hari kerja yang biasanya diberikan Perusahaan bisa
mencapai 17-18 hari namun kini hanya mencapai 9-10 hari saja. “Mesin-mesin
produksi yang biasanya difungsikan setiap hari pun saat ini hanya difungsikan dua
kali selama satu minggu”, katanya. Di situlah saya mulai bertanya-tanya, apakah
ini akibat kenaikan gaji yang terlalu tinggi? Atau apakah karena krisis ekonomi
yang terjadi dimana-mana?.
Berdasarkan pemikiran struktural
fungsional dari Parsons, dengan menggunakan skema AGIL (Adaptation, Goal
Attainment, Integration, dan Latency), fenomena ini terjadi
dikarenakan Perusahaan memandang pekerja harian lepas bukan sebagai manusia melainkan
sebagai variable biaya yang bisa dimanipulasi. Dengan memangkas hari kerja
secara drastic, perusahaan harus beradaptasi (Adaptation) untuk menjaga cash
flow tanpa harus membayar kompensasi PHK yang besar seperti pada karyawan
kontrak atau karyawan tetap. Secara sistemik, pekerja harian lepas dianggap
sebagai “Katup Penyelamat” yang dikorbankan agar kapal besar perusahaan tidak
karam.
Secara struktural, lubang yang
tadinya hanya retakan saat ini berubah menjadi jurang yang semakin dalam di
lantai pabrik. Ketika hari kerja dipangkas, pekerja harian lepas mengalami
disfungsi ekonomi. Secara administratif mungkin mereka masih bekerja namun
secara fungsional mereka telah lumpuh karena upah yang diterima jauh dibawah
garis kebutuhan dasar, melampaui ketimpangan yang dialami pekerja kontrak,
hingga akhirnya beberapa teman pekerja harian lepas saya mulai melakukan gig
ekonomi seperti menjadi driver ojol demi menyangga ekonominya sehari-hari. Hal
ini menciptakan fragmentasi sosial di mana solidaritas buruh pecah karena
perbedaan status kerentanan.
Pekerja harian lepas berfungsi
sebagai penyangga (Buffer), mereka adalah kelompok yang paling pertama
merasakan dampak badai namun paling terakhir mendapatkan perlindungan sistemik.
Narasi “Efisiensi” yang diagungkan perusahaan sebenarnya bentuk pengalihan
beban krisis dari modal ke Pundak mereka yang paling rapuh. Gaji yang jauh
dibawah standar ini bukan sekedar angka melainkan simbol bahwa dalam struktur
perusahaan modern ada nyawa yang dianggap lebih layak dibuang demi keberlangsungan
hidup organisasi.
Dampak jangka panjangnya,
nilai-nilai budaya (Latency) yang dipegang teguh oleh pekerja harian
lepas seperti kerja keras akan hilang karena ketika pekerja harian lepas
melihat bahwa kerja keras mereka tidak menjamin stabilitas bahkan hanya
dihargai dengan sisa-sisa hari kerja yang dipangkas maka komitmen terhadap
sistem sosial akan runtuh. Mereka hidup dalam ruang antara ada dalam secara
fisik namun terbuang secara kesejahteraan.
KESIMPULAN
Mayday tidak boleh dibiarkan
menyusut menjadi sekedar seremoni festival. Pergeseran dari perlawanan menuju
perayaan adalah bentuk anastesi politik yang bertujuan membuat kelas pekerja
lupa akan posisi tawar mereka. Jika perjuangan hanya dibayar dengan panggung
dangdut dan janji manis diatas podium maka artinya kita sedang menari di atas
makam para martir yang mendambakan keadilan, bukan sekedar keramaian.Perjuangan
adalah tentang merebut kembali hakikat manusia yang merdeka bukan merayakan
sistem yang menjadikannya budak dengan perut kenyang sementara.
Perjuangan di Mayday terjadi
bersamaan dengan fenomena badai PHK yang melanda yang secara struktural
fungsional ini merupakan tanda bahwa ada bagian dari mesin masyarakat yang
sedang rusak atau usang. Yang berdampak pada sosial dan budaya melalui proses
penyesuaian yang menyakitkan demi mencapai stabilitas baru. Namun, jika proses
ini tidak dikelola dengan baik oleh negara sebagai integrator maka disfungsi
ini bisa menyebabkan keruntuhan total pada sturuktur sosial yang ada.
Persektif punk menawarkan cara
untuk menolak keras segala stabilitas palsu dan tontonan yang menjinakan nalar
kritis. Punk mengajarkan kita untuk kembali pada etos “Kalau bukan kita yang
ngelakuin siapa lagi” dalam perlawanan bergerak secara mandiri tanpa harus
menunggu restu penguasa atau sponsor korporasi. Perspektif ini menuntut kita
untuk merobek topeng “Perayaan” dan kembali turun ke jalan dengan kemarahan
yang jujur, karena perlawanan sejati tidak butuh panggung megah, ia hanya butuh
butuh keberanian untuk mengatakan “TIDAK” pada sistem yang menindas.
Demi menghadapi fenomena badai
PHK, beberapa perusahaan menjalankan strategi dengan memangkas hari kerja
seluruh pekerja harian lepas sebagai bentuk perlawanan terhadap krisis yang sangat
teknokratis namun minim empati. Ketimpangan dalam struktur ini merupakan bukti
nyata bahwa “Keseimbangan Sistem” seringkali dibangun diatas penderitaan mereka
yang berada di strata paling bawah yang dipaksa bertahan hidup dengan upah yang
tak lebih dari sekedar penyambung napas.
SUMBER REFERENSI
D, Guy (1967). The Society
of the spectacle. Spectacular Time. Paris: Rare Treasure Editions.
M, Mustain (2023). Metode Kajian
Sosiologi Komunikasi. Sosiologi Komunikasi. Tangerang Selatan: Universitas Terbuk
M, Mustain (2023). Teori
perspektif struktural fungsional. Sosiologi komunikasi. Tangerang Selatan: Universitas
Terbuka
M, Mustain (2023). Teori
Konflik Karl Marx. Sosiologi Komunikasi. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka
T, Widhji (2019). Yang
tersisih. Nyanyian akar rumput. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
F, Ferry (2026). Siap-siap PHK
meluas. https://www.tempo.co/ekonomi/
R, A, Nicholas, dkk (2026). Di
Antara Tuntutan dan Harapan; Rencana Buruh Rayakan May Day 2026 Bareng Prabowo
Lagi. https://nasional.kompas.com/
Komentar
Posting Komentar