PANDUAN MEMPERSIAPKAN BANGKU KULIAH
Morning sunshine, selamat
berlibur dan selamat 17 Agustus. Setelah lima hari bekerja merasa tertekan
karena tuntutan atasan akhirnya liburan pun tiba. Kali ini gua mau bercerita
tentang pengalaman gua yang drop out kuliah setelah berkuliah selama tiga
semester. Waktu itu gua masuk kuliah tanpa di tuntut oleh siapapun, karena
tujuan gua kuliah hanya untuk memenuhi janji gua kepada seorang paman yang
pernah menyelamatkan hidup gua saat gua sedang ada masalah saat itu. Sedikit bercerita
gua dulunya adalah anak STM, sekolah di STM itu agak sulit, kami lebih
mementingkan praktik ketimbang teori. Dan sehebat apapun menghindar dari stigma
tawuran anak STM, budaya tersebut akan mengalir dengan sendirinya dalam darah
anak STM, baik yang pernah ikut langsung tawuran ataupun yang hanya mengarang
cerita saja.
Tahun 2021 awal gua masuk kuliah
setelah merasa memiliki uang yang cukup untuk berkuliah gua pun mendaftarkan
diri di sebuah Universitas Swasta di Cibubur dengan sistemasi kuliah Online dan
belajar secara daring. Di satu semester pertama memang gua agak malas-malasan
untuk mengerjakan tugas yang sangat banyak dari dosen, ada beberapa matkul yang
akhirnya gua telantarkan, hingga akhirnya gua pun mulai menyadari jika seperti itu
terus gua akan merasa sangat merugi, dari situlah gua mulai membeli sebuah buku
berjudul “Atomic Habbit”, sebuah buku yang menjelaskan tentang kebiasaan,
dari situh gua mulai belajar kebiasaan dan memaksa diri gua untuk mengerjakan
tugas semalas apapun gua saat itu juga.
Perkuliahan berjalan begitu
cepat, dan di semester dua gua mulai mengejar ketertinggalan nilai, di semester
dua nilai gua cukup lumayan meski ada beberapa matkul yang anjlok karena jadwal
yang bentrok dengan kerjaan. Dulu tuh gua selalu lebih mementingkan kepentingan
orang lain ketimbang diri gua sendiri padahal gua pun sama pentingnya karena
takut tidak punya teman dan sendirian, bukan itu si sebenarnya, tetapi karena
takut di omongin orang-orang kalau gua orang yang senang sendirian, dan
sekarang gua merasa bodo amat, mau sendirian atau bersama siapapun saat itu gua
hanya yaudah kita jalan bareng tapi kalau kalian semua mau pergi juga gapapah
gua bisa sendiri gak peduli apa yang orang lain katakan.
Menurut beberapa pengakuan temen
gua, gua adalah orang yang pemarah, suka marah-marah, mungkin jika kita bisa
ambil dari film “Inside Out”, di otak gua “Si marah” inih lebih sering
mengambil alih kuasa otak gua ketimbang emosi lainnya. Padahal gua gapernah
bermaksud untuk marah-marah, namun di mata orang lain gua selalu terlihat
seperti sedang marah. Mungkin kemarahan gua berasal dari orang-orang sekitar gua
yang memang kelihatannya seperti marah tetapi emang udah jadi watak mereka
sejak turun menurun, dulu ketika gua masih SD gua sering di panggil Gaaraa sama
temen-temen gua, karena kata mereka gua orang yang gampang marah, di singkat
Garaaa, aneh banget.
Tapi gua gak ada masalah sama
itu semua, dan terima terima ajah, karena saat itu yang terpenting buat gua hanya
naik kelas dan dapat ranking agar tidak kena marah. Massa kecil gua
menyenangkan sii, meski ada beberapa bagian yang menyebalkan tetapi tetap
menyenangkan, gua inget yang paling aneh gua lakuin saat kecil adalah memakan
daun random yang bukan merupakan lalapan, karena temen gua makan daun itu dan
ia memakannya memakai kecap dan dia bilang rasanya enak, gua pun ikut makan
daun tersebut, dan rasanya emang enak tetapi mungkin yang bikin enak karena
rasa kecapnya yang menutupi rasa pahit dari daun tersebut. Sebelum youtuber dede
inoen makan makanan aneh, gua udah pernah ngelakuin itu ahahaha.
Satu tahun berlalu dan
bagaikan di timpa oleh meteor hal itu pun terjadi. Saat gua sedang
asyik-asyiknya bekerja dan berkuliah salah satu orang yang gua sangat sayangi
pun meninggal dunia, saat itu gua merasa dunia gua seperti di jungkir balikan,
bekerja pun saat itu hanya menjadi opsi untuk menyibukkan diri demi meluapkan
seluruh rasa sedih gua saat itu. Hingga di semester ketiga, gua habis kontrak
untuk bekerja dan memutuskan untuk drop out kuliah, uang yang sudah gua
kumpulkan untuk berkuliah akhirnya gua gunakan untuk buka usaha isi ulang untuk
orang tua gua.
Menurut gua ada lima hal yang
harus di perhatikan saat lu ingin berkuliah dan itu sangat penting. Apa saja?!
sebagai berikut!.
1.
Memiliki Uang yang cukup
Gua
ingat pesan dosen public speaking gua saat itu sewaktu gua masih berkuliah, dia
pernah bilang public speaking itu hanyalah tentang persiapan apa saja yang
ingin di sampaikan dan pesan apa yang di terima pendengar. Dia juga bilang
dalam public speaking tuh kita harus mengumpulkan amunisi sebanyak mungkin untuk
exit plan ketika rencana yang sudah kita siapkan tidak berjalan sesuai
keinginan kita. Saat itu gua merasa, wah dosen gua cantik banget karena memang
saat itu dia cantik. Bercanda, tapi point utamanya, jika ingin berkuliah kalian
harus mengumpulkan uang terlebih dahulu sebelum akhirnya memutuskan untuk
berkuliah supaya kalian tidak perlu memikirkan lagi biaya kuliah saat sedang
berkuliah dan hanya fokus belajar sambil memikirkan kerjaan sampingan lain.
2.
Harus lebih terbuka dengan dosen tentang keadaan
diri sendiri
Dulu
gua agak menyesal saat gua kuliah karena saat itu gua takut terlalu terbuka
dengan dosen gua, takut ajah terlalu oversharing. Hingga akhirnya gua menyadari
jika mungkin kalo gua lebih terbuka terhadap keadaan gua saat itu juga mungkin
gua bisa gak memutuskan untuk putus kuliah dengan cepat. Atau nilai gua bisa di
tolerir dengan mengikuti beberapa ujian susulan, ya tetapi itu kan hanya
kemungkinan saja, setiap dosen memiliki karakter dan personality berbeda,
seperti guru sekolah pada umumnya, namun tujuan mereka tetap mulia.
3.
Paham sistematisasi perkuliahan
Memahami
sistematisasi kampus juga hal yang harus di persiapkan misal jadwal dan juga mapel
apa yang ingin kamu pelajari saat itu. Kurikulum sekarang adalah kurikulum
merdeka, gua gatau siapa yang pertama kali mengemukakan pendapat tentang
kurikulum tersebut tetapi mungkin maksudnya belajar itu bisa dari mana saja
bukan hanya dari pelajaran yang di dapat dari dosen kalian di kampus. Meskipun begitu
setiap kampus memiliki sistematisasi berbeda, ikuti ajah, semakin kalian
membantah dengan sistem maka semakin berat beban kalian saat berkuliah.
4.
Kita yang mengatur jadwal bukan jadwal
yang mengatur kita
Terkadang
kita terlalu terperangkap dengan jadwal yang kita buat sendiri, kebiasaan kita
pun akan berubah secara otomatis mengikuti jadwal yang kita buat sehingga kita
lupa jika sesungguhnya kitalah yang mengatur jadwal tersebut bukan jadwal yang
mengatur kita. Beri waktu selama satu hari atau satu jam terserah untuk
relaksasi bagaimanapun caranya, seperti quotes yang pernah di ucapkan oleh
Squidward Tentacle, “Aku akan berlibur meskipun itu akan membunuhku”.
5.
Bersabarlah dan jangan terburu-buru
Inih
gua juga dapet dari dosen gua, cepatnya arus teknologi dan informasi membuat
otak kita bekerja menjadi lebih cepat ketimbang sebelumnya, jadi otak kita agak
membutuhkan proses lebih lama untuk mengolah materi pelajaran yang di dapat
oleh dosen. Keputusan dan kata-kata yang kita keluarkan akan terjadi secara
spontan tanpa berpikir panjang hingga akhirnya setelah itu baru kita menyesal
dan berusaha memperbaikinya. Bersabar ajah, kata guru besar kita semua, Kyai H
Abdurahman Wahid atau Gusdur, bersabar itu gak ada batasnya kalo ada batasnya
berarti namanya gak sabar.
Begitulah cerita gua beberapa
tahun belakangan, gua yakin yang baca tulisan gua lebih cerdas dan lebih pintar
dari gua jadi gak mungkin ceroboh seperti gua, jujur gua agak depresi pas awal
drop out dari kampus sampai akhirnya gua berpikir, yang drop out hanya kuliahku
bukan hidupku, namun jika ada yang mengalami hal yang sama seperti gua gak usah
khawatir, kalian gak sendiri, Hidup terlalu singkat untuk merasa khawatir
setiap hari!.

Komentar
Posting Komentar