Bayangan Hitam
“Ibu aku cantik gak?,” tanya seorang gadis kecil berumur sekitar 8 tahunan
“Ya cantik dong sayang. Semua cewek itu cantik. Kalo ada yang bilang kamu gak cantik berarti mereka bohong karena kecantikan seorang wanita itu tidak hanya terlihat dari luarnya saja tapi juga dari hatinya,” ucap ibunya memberi pengertian kepada anak gadis kecilnya
“Tapi bu, temen aku ada kok cewek tapi dia ganteng. Aku ajah sampe naksir sama dia.”
“Siapa emang temen kamu?!,” tanya ibunya penasaran. Ada sedikit penekanan intonasi di suaranya. Takut-takut jika anaknya bertumbuh tidak menjadi gadis normal pada umumnya.
“Itu loh bu Sintya. Anaknya Bu Rosma yang juga sekolah bareng sama aku. Padahal dia cewek tapi mukanya ganteng.”
“Itu karena Sintya memang terlihat lebih masculine ajah sayang dari kebanyakan cowok yang kamu kenal.”
“Masculine itu apah bu?,” tanya gadis kecil itu dengan polosnya
Ibunya sempat kebingungan bagaimana cara menjelaskan tentang masculinity dan feminism kepada anaknya. Mungkin jika anaknya berumur 12 atau 15 tahun dia akan mudah untuk menjelaskan apa itu masculinity dan feminism kepada anaknya. Namun, anaknya masih berumur 8 tahun. Dia harus menggunakan diksi dan analogi yang tepat untuk menjelaskan lebih detail kepada anak gadisnya yang berumur 8 tahun.
“Gimanah ya ibu jelasinnya. Sekarang coba deh ibu tanya. Hari inih di sekolah, kamu udah kenal berapa banyak cowok?,” ucap ibunya
“Berapa yaa bu aku lupa. Bentar coba aku itung..-” Anak gadis itu memainkan jemarinya. Menyebutkan nama teman cowoknya. Menghitung satu per satu semua nama teman cowoknya. “Joni, Riko, Doni, Asep..-“
“8 kayaknya bu,” ucap gadis kecil itu
“Terus dari 8 temen cowok yang kamu kenal. Menurut kamu siapa yang paling ganteng di antara mereka?.”
“Siapa yaa?!. Gaada kayaknya bu. Doni palanya pitak, Riko giginya ompong. Asep juga ya kayak cowok-cowok yang lain.”
Ibunya tertawa kecil mendengar jawaban polos dari anak gadisnya.
“Nah, karena kata kamu gaada cowok yang ganteng di kelas. Akhirnya kamu menjadikan Sintya itu sebagai orang paling ganteng di kelas kamu. Ibu yakin suatu hari nanti kalo kamu ketemu sama cowok yang gantengnya melebihi Sintya, kamu gaperlu lagi menganggap Sintya ganteng.”
“Ketemu cowok ganteng yang gantengnya melebihi Sintya?!. Maksud ibu kayak pangeran di buku yang pernah ibu kasih ke aku!.”
“Ya kurang lebih seperti itulah.”
Gadis kecil itu tersenyum. Diam sejenak. Seperti sedang berpikir sesuatu untuk menjahili ibunya. “Menurut ibu ayah ganteng apah enggak?,” tanya gadis kecil itu dengan polosnya
“Ya ganteng dong nak. Kalo ayah gak ganteng ibu gak bakal mau nikah sama ayah.”
“Sama pangeran yang ada di buku yang ibu kasih ke aku gantengan manah?.”
“Ya, gantengan ayah kamu lah!.”
“Ibu yakin?!.”
Ibunya diam sejenak. Lalu tersadar jika dia sedang di kerjai oleh anaknya sendiri. “Kamu ngerjain ibu ya!?.” Ibunya menangkapnya. Menggelitikinya. Menguselkan wajah ke perut anaknya.
Anak gadis kecil itu tertawa kegelian. Tergelitik. . “Ahhh ibu ampun. Udah geli!.” Memohon ampun kepada Ibunya untuk berhenti menggelitikinya.
Ibunya berhenti menggelitikinya. Menampak wajah anaknya. Terlihat rambut anak gadisnya sedang kusut. “Rambut kamu kusut banget. Ibu sisiran yah.”
Anak gadis kecil itu mengangguk. Menyetujui permintaan ibunya.
Ibunya mengambil sisir antik berwarna cokelat di laci almari. Menduduki anak gadisnya depan cermin. Mulai menyisiri rambut anaknya.
Ibunya bersenandung ria. Sambil menyisiri rambut anaknya dia bernyanyi. “Susan, susan, susan kalau besar mau jadi apa?.” Anak gadis kecilnya ikut menggoyangkan tubuh, mengikuti irama lagu yang dinyanyikan ibunya.
“Aku kepingin pinter, biar jadi dokter,” ucap anaknya ikut bersenandung
Ibunya lanjut menyisiri rambut anaknya. Bernyanyi, melanjutkan lagu sebelumnya. “Kalau, kalau benar, jadi dokter kamu mau apa?.”
“Mau suntik orang lewat. Jus.. enjus.. enjus...”
Lagu susan mau jadi apa adalah lagu yang sedang hits saat inih. Lagu tersebut sering dinyanyikan oleh para ibu di kota Jakarta untuk menghibur anaknya di rumah. Lagu yang dinyanyikan oleh seorang wanita yang membawa boneka bernama susan, menjadi lagu ramah anak-anak yang bertema tentang susan yang punya cita-cita.
Saat inih belum ada pertentangan apapun tentang lagu susan. Semua orang masih menganggap lagu susan sebagai lagu wajib yang harus di nyanyikan oleh para Ibu kepada anaknya. Tetapi mungkin di masa depan yang akan mendatang nanti, seiring bertambahnya usia, pengalaman, dan referensi baru, lagu susan akan berubah menjadi lagu horror menyeramkan yang pernah di dengar anak-anak dan dinyanyikan oleh beberapa ibu untuk anak-anak mereka.
Saat sedang menyisiri rambut anaknya. Bayangan hitam muncul dari belakang tubuh si ibu. Tanpa aba-aba bayangan hitam itu masuk ke tubuh si ibu. Si ibu menghentikan kegiatannya menyisiri rambut anaknya. Si Ibu terdiam.
“Loh bu kok udahan!?,” ucap anak gadis kecil keheranan, si ibu berhenti menyisiri rambutnya secara tiba-tiba.
Si ibu melanjutkan kembali kegiatannya menyisir rambut anaknya. Tidak seperti sebelumnya, si ibu menyisiri rambut anaknya dengan begitu lembut. Kali ini sisirannya berubah menjadi sangat kasar.
“Ahh!. Aduh ibu sakit!,” ucap gadis kecil itu merintih
Ibunya tidak mendengar rintihan anaknya. Dia masih lanjut menyisir rambut anaknya. Anak gadis kecil itu mulai terbiasa dengan sisiran kasar ibunya.
“Ibu marah ya sama aku?. Maafin aku ya bu. Aku gak bermaksud bikin ibu marah. Aku janji gak nanya yang macem-macem lagi.”
Hening. Tidak ada jawaban dari si ibu. Si ibu masih lanjut menyisiri rambut anaknya. Menatap lurus ke cermin dengan tatapan kosong. Wajah yang tadinya riang gembira sumringah, berubah menjadi datar.
Seketika senyum bengis dari si Ibu pun muncul. Tatapannya seperti seekor hyena yang ingin mencabik-cabik mangsanya. Si ibu mengangkat tangannya yang sedang memegang sisir ke atas. Bersiap untuk melakukan hal gila kepada anaknya.
Si ibu menusuk-nusukan ujung sisir ke bahu anaknya. Anaknya meringkih. Perih manapaki pundaknya. “Ibu!. Ampun ibu. Maafin aku!.” Anak gadis kecil itu menangis. Memohon kepada ibunya untuk berhenti menusuk-nusuk pundaknya dengan sisir. Darah yang keluar dari anak gadis kecil itu berhamburan. Cipratanya muncrat sampai ke wajah ibunya. Ibunya menyeringai.
Si ibu seperti berubah menjadi orang lain yang bukan dirinya. Sifat keibuan yang penuh perhatian berubah menjadi algojo pencabut nyawa penuh dengan kekejaman.
Hingga akhirnya tepat di ubun-ubun anak gadis kecilnya. Dia menancapkan sisir persis di atas pusara kepala. Crott. Gagang sisir dengan panjang sekitar 10 cm itu menembus kepala. Gadis kecil yang dosanya masih bisa dihitung dengan jari, meninggal di tempat.
Bayangan hitam itu keluar dari tubuh si Ibu. Ia tersendat, seperti ada sesuatu yang baru saja keluar dari tubuhnya. Saat sudah sadar, pemandangan pertama yang ibu itu lihat adalah anak gadis kecilnya, berlumuran darah, dengan sisir yang masih tertancap di kepala. “Astagfirullahaldzim nak!.” Si ibu menangis terisak. Menutup mulut. Masih syok melihat kematian anaknya. “Maafin ibu nak!....”
Si ibu menjambak rambutnya frustasi. Berteriak. “Ahhhhhhhhhhhh!..” teriakannya memekik memenuhi seisi ruangan.
Si ibu keluar kamar, berlari pergi ke gudang mengambil seutas tali. Beberapa menit mencari dia berhasil menemukan tali. Dia kembali ke kamar. Memindahkan mayat anaknya yang masih duduk di bangku ke lantai. Si ibu naik ke atas bangku, mengikatkan tali di salah satu kayu penopang atap rumahnya.
Tali sudah terikat, si ibu mengalungi lehernya dengan simpul tali tidak sempurna yang dia buat sendiri. “Kamu sabar ya nak. Ibu akan nyusul kamu disanah…” ucap si ibu dengan tangisan masih terisak
Saat semua sudah siap, si ibu pun loncat dari atas bangku. Menggantung. Melayang di udara. Si ibu menggantung dirinya sendiri demi menyusul anaknya yang sudah berpulang mendahuluinya. Hanya butuh waktu beberapa menit sampai si ibu meninggal akibat gantung diri.
Sepuluh detik pertama saat si ibu gantung diri, terjadinya penekanan arteri karotis yang membuat si ibu kesulitan bernafas. Dua puluh detik berlalu, pembuluh darah vena mulai tersumbat menyebabkan gangguan sirkulasi darah pada tubuh. Tiga puluh detik berlalu, setelah pembuluh darah vena mulai tersumbat, suplai oksigen ke otak pun mulai terhambat. Satu menit sudah lewat, jantung berdetak secara tidak normal menuju berhenti. Tulang punggung mengalami pergeseran akibat tali yang menjerat leher. Kuku dan bibir berubah warna menjadi sedikit kebiruan. Bola mata menonjol seperti ingin keluar dari kelopak mata. Butuh waktu empat sampai lima menit lamanya, sampai akhirnya si ibu benar-benar meninggal. Menyusul anak gadisnya. Seperti sangat percaya diri jika dia bunuh diri akan bertemu lagi dengan anak gadis kecilnya.
Hari berganti. Malam pun tiba. Jam kerja ayah sudah berakhir. Sudah waktunya ayah pulang ke rumah untuk menikmati masakan istrinya dan bermain bersama anaknya sebentar sebelum akhirnya tidur beristirahat untuk bekerja lagi esok hari.
Pintu di gedor dengan sangat kencang. Namun, tidak ada respon apapun dari dalam.
Ayah pun mendobrak pintu. Khawatir terjadi sesuatu dengan anak dan istrinya. Saat sudah sampai di dalam si ayah melihat sebuah pemandangan yang kurang mengenakan hatinya. Di matanya terlihat, anaknya yang berlumuran darah dengan sisir yang masih menancap di kepala dan istrinya yang lehernya terjerat seutas tali, masih menggantung di atas.
Si ayah jongkok. Kakinya mendadak lemas. Memijit kepalanya yang mulai terasa sangat sakit. Entah kenapa, bagi sebagian laki-laki, menangis adalah hal yang haram untuk di lakukan, walaupun begitu, meskipun haram sekalipun, si ayah sudah tidak bisa membendung air matanya. Air matanya menetes jatuh. Mengalir. Menyatu bersama darah putrinya yang berserakan dimana-mana.
Komentar
Posting Komentar