REVIEW FILM THE HAUNTING OF HILL HOUSE : MELIHAT DUNIA MELALUI KACAMATA WILLIAM SHAKESPEARE
Manusia tuh aneh, padahal
mereka gak suka merasakan rasa takut tapi kok mereka suka di buat takut. Lewat
cerita, lewat ingatan, lewat kenangan. Seolah rasa takut itu bagai sebuah
candu, bagai sebuah rindu, bagai sebuah suara yang membisu, bagai putaran waktu
yang semu. Katanya rasa takut itu merupakan sebuah pengingat kalau kita masih
manusia, katanya rasa takut itu yang membuat kita bertahan atas nama
kemanusiaan, dan katanya rasa takut itu yang membuat kita menjadi seorang
pengecut yang berjalan di sepanjang lorong itu.
Seperti sebuah film horor yang
baru saja saya tonton seminggu yang lalu, judulnya The Haunting of Hill House.
Film horor yang menceritakan tentang sebuah rumah yang berhantu, biasa banget
si sebenarnya namun yang membedakan film ini dari film lainnya ialah cerita
yang terdapat di film ini di bungkus dengan sebegitu puitisnya sehingga kita
lupa kalau ini adalah film horor dan malah menganggap film ini sebagai buku
yang berisi puisi.
Film ini di sutradarai oleh
Mike Flanagan berdasarkan novel karya Shirley Jackson, film ini merupakan film
terpuitis dan terplot twist sepanjang saya menonton berbagai macam film horor.
Sebenarnya bukan film si tetapi series dengan total 10 episode dan berdurasi
sekitar 40-60 menit di setiap episodenya.
Setelah menonton series ini
saya merasa ada kepedihan yang cukup mendalam yang akhirnya terbuka kembali di
tiap episode yang saya tonton. Saya merasa di permainkan oleh series tersebut
karena setiap episode punya plot twist yang sulit untuk di tebak, bahkan saya
pun sempat tergocek ketika mengira yang akan terjadi selanjutnya dalam adegan
film.
Fillm atau series ini
merupakan film yang mengajak kita melihat dunia melalui kacamata William
Shakespeare yang menulis sebuah maha karya yang mendunia bahkan melegenda,
dalam pentas seni, dalam fiksi mini, dalam romantisme puisi. Melalui bukunya
yang banyak di jual di toko buku dari yang bajakan sampai yang terjemahan,
salah satunya adalah Romeo dan Juliet.
Beberapa orang menganggap
Shakespeare sebagai psikopat gila karena karyanya yang membahas berbagai macam
hal tabu yang jarang di bahas di masyarakat sosial karena sistem sosial yang
mengharuskan semua orang tunduk pada moralitas namun lupa akan gelapnya realitas.
Beberapa lainnya menjadikan
Shakespeare sebagai kiblat moral karena karyanya mampu membuka mata banyak
orang dan merubah pandangan orang, terhadap kenyataan, terhadap kematian, dan
terhadap kehidupan.
FILSAFAT SHAKESPEAREISME : MENJADI
ABADI DALAM KEMATIAN DAN MENJADI MATI DALAM KEABADIAN
Film atau series ini merepresentasikan sajian yang seolah membuat sebagian orang berpikir mengenai kematian dan keabadian. Bahwa sesungguhnya meskipun kita mati namun kita tetap abadi dalam ingatan yang orang lain menyebut itu sebagai trauma, dan bahwa sesungguhnya meskipun kita merasa abadi kita bisa saja mati ketika di abaikan, ketika di campakan, ketika tidak di dengar, ketika tidak di lihat.
Sebelum melanjutkan bagian
ini, saya mohon untuk berhati-hati karena bagian selanjutnya akan memberikan
sedikit spoiler karena agak sulit ketika ingin mereview film namun tidak
menceritakan bagian filmnya. Biasanya saya mereview film melalui pendekatan filosofis
yang membicarakan berbagai macam aliran filsafat namun kali ini saya akan
mencoba mereview film melalui kacamata William Shakespeare, yang
menganggap segalanya sebagai bagian tubuh manusia. Di awal paragraph tadi
mungkin bagian kepalanya, dan sekarang bisa jadi bagian jantungnya, atau
tubuhnya, atau perutnya, dan di akhir akan menjadi bagian kakinya.
Seperti karyanya Shakespeare
semua film atau buku yang berhubungan dengan kehidupan dan kematian tidak akan
menjadi indah bila tidak memasukan unsur William Shakespeare di dalamnya.
Meskipun pada akhirnya unsur William Shakespeare sendiri terbagi menjadi
berbagai macam aliran yang orang-orang sebut sebagai filsafat Shakespeareisme.
Filsafat Shakespeareisme
merupakan aliran filsafat yang memainkan unsur William Shakespeare di dalamnya,
meskipun beberapa orang berkonspirasi bahwa karyanya bukanlah karya murni
buatan Shakespeare namun seringkali dalam beberapa karya menyinggung atau menyebut
William Shakespeare sebagai salah satu unsur penopang karyanya, salah satunya
adalah series film berjudul, The Haunting of Hill House ini.
Bercerita tentang lima orang
anak yang di ajak pindah oleh kedua orang tuanya ke sebuah rumah yang cukup
luas, cukup indah, cukup nyaman sampai suatu ketika mereka semua mengalami
kejadian supernatural yang tidak terduga, yang membuat seluruh anggota keluarga
kebingungan, membuat seluruh anggota keluarga keheranan, membuat seluruh
anggota keluarga merasakan berbagai macam kejanggalan.
Kelima anak tersebut bernama,
Steven, Shirley, Theodora, Luke, dan Eleanor Nell serta kedua orang tuanya,
Hugh dan Olivia. Series ini memiliki alur maju-mundur dengan pembagian
masing-masing Point Of View dari setiap tokohnya. Saya takjub dengan
bagaimana cara serial ini merepresentasikan sebuah kematian dengan tak
mengerdilkan kematian hanya dengan kembalinya sosok atau tokoh yang sudah mati
melalui penampakan-penampakan yang membuat penonton kaget.
Apalagi jalur cerita yang di
ambil, yang mampu menusuk kita dengan menampilkan permasalahan sehari-hari yang
mengarah pada disintegrasi sebagai akibat dari sebuah kematian. Dan terkadang
itulah yang mengerikannya, melihat orang-orang yang kita habiskan waktu bersama
perlahan menjauh.
TIDAK ADA AKHIR DALAM
KEHIDUPAN DAN KEMATIAN : SEMUA YANG BERJALAN DI BUMI AKAN ABADI DALAM RUANG
TERSEMBUNYI YANG SUNYI, YANG SEPI.
Mungkin banyak orang yang
akhirnya kecewa setelah mengetahui ending yang biasa saja dalam serial
film ini. Meskipun sesungguhnya hal-hal yang luar biasa sudah banyak di
tampilkan di bagian awal series sampai bagian tengah namun selayaknya manusia
pada umumnya yang merasa kurang puas akan segalanya, beberapa orang akan
menganggap ending series ini merupakan ending yang mengecewakan.
Meskipun dalam grafik menunjukan,
hal tersebut merupakan hal yang memang sudah seharusnya karena sudah berada
pada struktur cerita yang benar. Di awal ceritanya biasa, di tengah mulai naik
tuh kompleksitas ceritanya, mulai terbentuk resolusinya, hingga sampai akhir
cerita, grafiknya turun.
Orang yang menonton mungkin
akan mengira seperti tidak ada ending dalam serial film The Haunting of
Hill House, seperti seolah-olah ingin menunjukan sebuah pesan, Tidak ada
akhir dalam kehidupan dan kematian, semua yang berjalan di bumi akan abadi
dalam ruang tersembunyi yang sunyi, yang sepi.
Banyak pesan, quotes, amanat,
nasehat, refleksi dalam serial film The Haunting of Hill House, salah satunya
berasal dari tokoh Hugh Crain. Seorang ayah yang memendam rahasianya
bertahun-tahun, seorang ayah yang mungkin selama jeda kebahagiaan anaknya, tetap
di hantui kematian istrinya, seorang ayah yang selalu berusaha untuk
memperbaiki segala sesuatu, seorang ayah yang pada akhirnya harus memilih.
Memilih jalan untuk memaknai kehilangan, kehilangan dirinya maupun orang
terdekatnya, dan di tengah kegelapan yang tak ada satupun orang yang berani
menyentuhnya, Hill House tetap berdiri kokoh. Selamat menonton serial film The
Haunting of Hill House, semoga harimu di penuhi puisi dan semoga puisi mampu
menemani harimu yang sepi.

.jpg)

Komentar
Posting Komentar