SEMUA LIRIK YANG ADA DALAM MUSIK DI GENRE APAPUN MENGANDUNG KRITIK

 


 

Beberapa bulan yang lalu beredar sebuah video permintaan maaf dari dua orang personel Band Punk Sukatani atas lagu milik mereka yang berjudul ‘Bayar Bayar Bayar’. Dalam videonya kedua orang tersebut memintaa maaf ke Kapolri dan Polri lantaran lirik yang ada di musiknya mampu membuat beberapa personel kepolisian tersinggung dengan musik yang mereka bawakan.

Selama ini, personel band asal Purbalingga itu selalu tampil dengan topeng. Ini adalah pertama kali mereka memperlihatkan wajah ke publik. Hal ini membuat gempar jagad maya dan alam raya. “Mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Bapak Kapolri dan institusi Polri atas lagu ciptaan kami dengan judul lagu Bayar Bayar Bayar yang liriknya bayar polisi, yang telah kami nyanyikan sehingga viral di beberapa platform media sosial yang pernah saya upload ke platform Spotify,” ujar Muhammad Syifa Al Ufti, salah satu personel band punk Sukatani.

“Sebenarnya lagu itu saya ciptakan untuk oknum kepolisian yang melanggar peraturan,” ia kembali menjelaskan.

Selanjutnya, Sukatani menyebut kini lagu tersebut telah di tarik dari peredaran. Mereka juga meminta pengikutnya di media sosial untuk menghapus lagu tersebut. “Dengan ini saya menghimbau kepada semua pengguna akun media sosial yang telah memiliki lagu kami dengan judul Bayar Bayar Bayar, lirik lagu bayar polisi agar menghapus dan menarik semua video menggunakan lagu kami dengan judul Bayar Bayar Bayar. Karena apabila ada risiko di kemudian hari sudah bukan tanggung jawab kami dari band Sukatani,” kata Muhammad Syifa Al Ufti.

Sejenak sebagai penikmat musik saya sempat terguncang dengan klarifikasi yang di lakukan oleh kedua personel band Sukatani yang mana keduanya harus memaksa memperlihatkan wajahnya di balik topeng yang mereka berdua sembunyikan hanya untuk meminta maaf atas karya seni yang mereka berdua ciptakan, seperti yang di katakan oleh budayawan, Sujiwo Tejo, ketika seorang seniman di paksa untuk membuka kostumnya di hadapan banyak orang tanpa teatrikal atau pertunjukan artinya seniman tersebut sudah di telanjangi.

Lagipula bukankah semua lirik musik yang kita dengar itu mengandung kritik apapun genrenya, baik itu kritik terhadap individu maupun instansi tertentu. Dan ini bukan yang pertama kalinya, tahukah kamu penyanyi bernama Iwan Fals? Dalam perjalanan karirnya sebelum menjadi seterkenal sekarang, karya-karyanya pun pernah di kecam oleh beberapa instansi tertentu, bahkan sampai masuk penjara, bayangkan jika Sukatani hidup di zaman Iwan Fals.

Satu-satunya kesalahan lagu ‘Bayar Bayar Bayar’ milik band Sukatani hanyalah liriknya tidak menggunakan bahasa Inggris. Coba misal seandainya liriknya menggunakan bahasa Inggris mungkin saja akan ada respon yang berbeda, entah itu dari masyarakat, maupun dari pihak tertentu. Sayangnya mereka membuat lirik lagu tersebut dengan menggunakan bahasa Indonesia, jadi kesannya terlihat terlalu subversif, meskipun tidak bermaksud offensive.

MANAH YANG HARUS DI DAHULUKAN, JUSTICE ATAU POPULIS



Sampai akhirnya Polda Jawa tengah kemudian buka suara atas respons negatif dari warganet dan publik. Mereka menilai polisi telah melakukan intimidasi dan represi pada personel Sukatani sehingga membuat pernyataan maaf dan menarik lagu ‘Bayar Bayar Bayar’.

Kabid Humas Polda Jateng Kombes Artanto, menegaskan Kepolisian tidak anti kritik dan tetap menghargai kebebasan berekspresi lewat seni. Ia juga sempat mengakui pihaknya sempat memanggil personel Sukatani.

“Kita memang sempat klarifikasi terhadap Band Sukatani tersebut. Hasil klarifikasi terhadap Band tersebut, kita menghargai kegiatan berekspresi dan berpendapat melalui seni. Kemudian melalui seni atau pendapat atau kritikan tersebut. Polri tidak antikritik,” kata Artanto.

Menurut Artanto, klarifikasi yang di lakukan sekedar ngobrol santai antara penyidik Siber Polda Jateng dan personel Sukatani. Artanto juga menegaskan Polri sama sekali tak meminta Band tersebut untuk bikin video permintaan maaf. Yaa, sesantai-santainya ngobrol sama polisi kalo mata gak sengaja lihat pistol nih yang ada di sabuk kanan atau kirinya itu, jiper juga kayaknya.

Lanjut, “Ohh tidak, nihil. Klarifikasi itu cuma sekadar kita ingin mengetahui maksud dan tujuan dari pembuatan lagu tersebut. Kita mengapresiasi dan itu merupakan kritikan terhadap Polri yang sifatnya membangun dan itu sebagai masukan untuk perbaikan ke depan,” jelas Artanto.

Secara justice, lirik ‘Bayar Bayar Bayar’ milik Band Sukatani terindikasi dapat menuai Hate Speech meskipun tujuan awalnya mungkin hanya ingin berkarya namun untuk meminimalisir terjadinya hal buruk yang tidak di inginkan di massa yang akan mendatang lagu tersebut terpaksa harus di tarik dari peredaran.

Namun, secara Populis lagu tersebut mampu memenangkan hati masyarakat yang suaranya di bungkam paksa karena terlalu takut untuk menyampaikan keresahannya dalam bermasyarakat. Oleh sebab itu masyarakat menuntut paksa supaya lagu tersebut tetap di edarkan dengan membuat Champaign hashtag #bayarbayarbayar di sela sela hashtag #Indonesiagelap.

Tetapi manakah yang harus di dahulukan, Justice atau Populis? Keduanya berjalan saling bergandengan karena tanpa justice tak akan pernah tercipta populis, dan tanpa populis, justice hanyalah alat untuk memenangkan kepentingan seseorang.

HUBUNGAN ANTI-HERO PERSONAL ANTARA LAGU SLANK DAN LAGU BAND SUKATANI




Tahukah kamu tidak hanya Band Sukatani saja loh yang membuat lagu tentang Instansi Kepolisan? Beberapa tahun lalu, band bersimbol kupu-kupu biru kesayangan kamu yang selalu menemani kamu saat galau, senang, dan marah pun membuat sebuah lagu tentang instansi Kepolisian.

Band Slank, menciptakan lagu dengan judul ‘Polisi Yang Baik Hati’. Banyak yang kecewa ketika Slank mengeluarkan single barunya. Namun ketika band Sukatani mengeluarkan singlenya ‘Bayar Bayar Bayar’ justru banyak yang menyukainya.

Ada dualitas sosial yang saling bertabrakan antara lagu Slank dan lagu Sukatani, dan hal tersebut sudah masuk ke dalam konsep hubungan anti-hero personal antara lagu slank dan lagu band sukatani. Yang bisa di interpretasikan sebagai hubungan antara masyarakat dan institusi dengan sudut pandang yang lebih kritis dan kompleks.

Yang mana meliputi beberapa aspek, salah satunya adalah ambiguitas moral. Dalam ‘Polisi Baik Hati’, ada harapan bahwa polisi adalah sosok pelindung yang baik, tetapi realitasnya bisa saja berbeda. Lagu ini mengidealkan peran polisi, tetapi dalam kenyataan, tidak semua polisi bertindak sesuai harapan.

Sedangkan lagu, ‘Bayar Bayar Bayar’ justru mengangkat sisi lain, di mana masyarakat menghadapi tekanan ekonomi dan birokrasi yang terasa menindas. Lagu ini menunjukan bahwa sistem sering kali tidak berpihak pada rakyat kecil. Dan keduanya menggambarkan dunia yang tidak hitam-putih. Tidak semua polisi baik dalam konteks Hubungan anti-hero personal dari kedua lagu ini, dan tidak semua aturan keuangan buruk.

Ada juga aspek ketegangan dan konflik dalam kedua lagu tersebut. Lagu Slank mencoba membangun kepercayaan masyarakat dan polisi, tetapi secara tidak langsung menyiratkan bahwa polisi yang baik itu masih menjadi harapan, bukan realitas universal. Sebaliknya, ‘Bayar Bayar Bayar’ justru menyoroti realitas pahit bahwa masyarakat seringkali tertekan oleh aturan dan kewajiban finansial yang terasa berat. Ada pertentangan antara harapan akan keadilan dan kenyataan yang di hadapi rakyat.

Meskipun, lagu ‘Polisi Yang Baik Hati’ milik Slank membuat beberapa masyarakat kecewa namun lagu ini juga punya daya tarik yang unik tentang optimisme, sedangkan lagu ‘Bayar Bayar Bayar’ Band Sukatani lebih menyuarakan frustasi. Dan kedua lagu ini berbicara tentang hubungan yang saling terkait. Masyarakat membutuhkan polisi untuk perlindungan, tetapi juga menghadapi tantangan dalam sistem yang terkadang tidak adil.

Kedua lagu ini juga merupakan bagian dari kritik sosial untuk bertransformasi, yang mana kedua lagu ini mampu mempengaruhi pendengar untuk lebih sadar terhadap peran institusi dalam kehidupan sehari-hari. Kedua lagu ini bisa membuat masyarakat lebih kritis terhadap realitas di sekitar mereka, baik dalam hal hukum maupun ekonomi.

Hubungan antara kedua lagu ini mencerminkan hubungan anti-hero personal dalam bentuk interaksi masyarakat dengan sistem sosial yang tidak selalu adil. Ada harapan dan kritik, optimisme dan frustasi, tetapi pada akhirnya, hubungan ini tetap berjalan dan terus berkembang dalam kehidupan nyata.

Selamat malam, semoga pagi mu tidak mendung. Ikuti blog ini jika kamu ingin melihat tulisan menarik lainnya!.  


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SIAPA DALANG DI BALIK PENYIRAMAN AIR KERAS KEPADA AKTIVIS KONTRAS "ANDRI YUNUS"?

MAY DAY: PERJUANGAN ITU TENTANG PERLAWANAN BUKAN PERAYAAN

JATUH CINTA SEKALIGUS PATAH HATI TERSINGKAT DI DUNIA