BUDAYA NEPOTISME MENJADI MANUVER POLITIK DALAM PENUNJANG KARIR DI SEBUAH PABRIK KOTA BEKASI
Bagaimana kabarmu hari ini? Penuh tekanan atau sudah ada di mode dengan mood bagus dan sudah siap dengan hari yang akan kamu hadapi?. Menjadi kaum proletar merupakan salah satu cara untuk bertahan dari kehidupan namun untuk naik menjadi kaum elitisi di butuhkan manuver politik dengan pendekatan-pendekatan yang kadang tak masuk di akal sehat.
Seperti contohnya teman saya yang bekerja di sebuah pabrik di Kota Bekasi. Ia merupakan salah satu korban dan pelaku budaya nepotisme dari manuver politik yang di lakukan setiap orang sebagai bentuk penunjang karirnya di tempat kerja. Berbagai macam pendekatan di lakukan baik secara kapital maupun eksistensial, dari yang tadinya saling pinjam uang sampai saling pinjam nama sebagai landasan penunjang.
Saling curiga sudah jadi habbit antar sesama, skill berbicara jadi tolak ukur lanjut kerja atau switch karir ke tempat lain saja. Katanya kerja itu cuma cari uang, ternyata juga cari kesempatan dan peluang.
Emangnya sepenting apa si uang sampai harus gontok gontokan antar sesama? Sampai hubungan baik harus di korbankan demi menaikan nama baik atasan juga perusahaan. Dulu masih kecil sering main monopoli pakai uang mainan, pas sudah besar di permainkan sistem keuangan.
Bukan bermaksud menyangkal namun segala perbuatan dan perkataan kadang menjadi sesal, jadi jangan kaget kalau suatu saat temanmu sering menghapus pesan di wa. Bukan takut salah kata tetapi takut tabiat aslinya terbaca. Memutar balikan fakta agar dapat takhta, fitnah dan adu domba jadi ajang seleksi antar pekerja.
Segala macam cara dan upaya dilakukan demi kenaikan jabatan. Ada yang dengan cara kotor, ada yang dengan cara bersih meskipun kebanyakan masih pakai cara kotor karena sebersih apapun caranya ketika sudah masuk sistem yang kotor cepat atau lambat akan ikutan kotor juga.
Budaya nepotisme bukan lagi soal dukungan dari karyawan kepada pekerja harian, tidak hanya melibatkan perasaan tetapi juga kontrol pikiran. Memori palsu di berikan demi tercapainya nafsu kekuasaan, memori asli di sembunyikan untuk menutupi kebenaran demi mempertahankan jabatan.
Nepotisme sendiri berasal dari bahasa Latin nepos, yang berarti "Keponakan" atau "cucu". Sebelum politik dinasti populer seperti sekarang ini, di abad pertengahan beberapa paus katolik dan uskup yang telah mengambil janji "chastity" yang biasanya tidak mempunyai anak kandung, sehingga memberikan kedudukan khususkepada keponakannya seolah-olah seperti kepada anaknya sendiri. Seringkali, penunjukan tersebut di gunakan untuk melanjutkan "dinasti" kepausan.
Artinya nepotisme sendiri sudah berlangsung selama berabad-abad silam, namun protes terhadap hal tersebut lebih besar di abad sekarang ini. Mengapa hal tersebut terjadi? Apakah akhirnya budaya nepotisme sendiri memantik pejuang keadilan sosial untuk menghentikan praktik tersebut supaya bisa memberikan kesempatan kepada yang bukan keturunan untuk mengambil alih takhta. Bisa jadi iya, bisa jadi engga.
LIGA NEPOTISME YANG BIKIN PANIK ANTAR KARYAWAN YANG SALING ADU MEKANIK
Kabar baik hari ini, Barcelona berhasil memenangkan pertandingan melawan Real Madrid dan MU di kabarkan berhasil lolos semi final setelah sekian lama terpuruk dari kancah liga persepakbolaan, kabar buruknya banyak haters MU yang tidak terima MU lolos ke semi final. Seharusnya tidak boleh seperti itu, kasih kesempatan untuk MU sekedar menunjukan jika mereka sebenarnya bisa, “Bisa kalah lagi”, cuaksss.
Beralih dari liga persepakbolaan menuju liga nepotisme antar karyawan yang saling adu mekanik. Grup kerja di jadikan ajang saling pamer kekuatan, yang satu pamer kebersihan, yang satu lagi pamer keahlian, sisanya nontonin sambil dalam hati gerendeng sendirian.
Pas awal masuk kerja kirain skill keahlian yang paling penting, ternyata skill berpolitik tidak kalah penting. Nepotisme sudah membudaya, bahkan yang bukan siapa-siapa bisa mengaku saudara, memainkan peran sebagai saudara padahal nyatanya hanya memanfaatkan keadaan saja.
Persoalan etika urusan belakangan, selama peran yang di mainkan tidak ketahuan. Kestabilan ekonomi aman, kestabilan sosial aman namun status quo jadi bahan perbincangan untuk di pertanyakan. Kepercayaan di permainkan, fakta di putar balikan demi harapan untuk mencapai tujuan.
Lantas sejak kapan budaya nepotisme mewabah? Jawabannya adalah sejak era orde baru semassa Soeharto menjabat menjadi Presiden Republik Indonesia. Seluruh akses kekuasaan di berikan kepada keluarga, meskipun ada beberapa yang mengklaim bahwa itu merupakan langkah besar menuju transparansi dan akuntabilitas namun budaya nepotisme membuat pemain lama kewalahan karena kinerja yang kurang tepat sasaran.
Pengambilan keputusan tidak lagi di tentukan dengan pendapat yang paling baik, melainkan melalui suara siapa yang paling berisik. Bukan untuk di bungkam tetapi untuk menambal lubang di kapal yang sudah hampir karam.
Perang kepentingan jadi landasan acuan, penilaiannya di nilai dari berkelakuan. Penyimpangan di anggap wajar, salah sedikit langsung di hajar. Kesempurnaan bukan lagi tentang proses kerja tetapi sudah tentang tingkah laku manusia.
Bertahanlah dan bersabarlah, ini hanya sementara yang terus berulang sampai selamanya. Doakan saja yang gugur saat mencoba merebut kekuasaan, jangan lengah jika tak ingin kalah. Terobos arus, tombak kedamaian.
FILSAFAT EKSISTENSIALISME : MINIM INTERAKSI NAMUN SALING BIKIN FAKSI PERANG PERSEPSI ANTARA FIKSI DAN EKSISTENSI
Filsafat eksistensialme merupakan cabang ilmu filsafat yang mengedepan eksistensi masing-masing individu yang saling menunjukan bahwa neraka sesungguhnya adalah manusia untuk memberikan kontribusi atas dinamisme sosial yang sedang berlangsung. Cabang filsafat ini di populerkan oleh J.Paul Sartre dengan bukunya yang berjudul “Eksistensialisme adalah Humanisme”.
Dulu sering mengira kalau ingin di dengarkan maka kita harus mendengarkan orang lain terlebih dahulu, namun ternyata dalam situasi sosial bersifat global siapa yang paling nyaring bersuara dan yang paling dominan merupakan tombak penunjang untuk menaikan karir.
Hingga akhirnya masing-masing individu menseleksi kepada siapa mereka berinteraksi bahkan sampai ada yang bikin faksi untuk saling membenci. Perang persepsi antara fiksi dan eksistensi tidak dapat di hindari, agresivitas sosial jadi kontribusi terbesar untuk memenangkan kualitas.
Ada kontestasi berkepanjangan yang hanya di menangkan oleh ego dan tidak di menangkan oleh siapa-siapa. Kata-kata jadi peluru, diam di anggap palsu, setiap hari krisis identitas sambil bertanya-tanya kita itu sebetulnya pekerja atau tentara yang ingin berperang.
Kesalahan di benarkan, kebenaran di salahkan. Perdebatan bukan lagi tentang saling adu argumen melainkan saling cari dukungan siapa yang paling keren dalam menciptakan fragmen.
Berkedok komunikasi padahal hanya ingin mendominasi. Bukan bermaksud ingin mengkritisi namun hanya mencurahkan isi hati, bukan bermaksud untuk membenci namun untuk saling interospeksi. Semoga hari kemarin bisa jadi pelajaran, hari ini bisa jadi perjalanan, untuk hari esok yang sering kali menggocek kepastian.



Komentar
Posting Komentar