PENGARUH PERKEMBANGAN MEDIA MASSA DAN INTERNET PADA POLA KEKERABATAN DI INDONESIA


Sumber :

 https://m.kumparan.com/kumparantech/benarkah-ponsel-bisa-timbulkan-radiasi-yang-berbahaya


PENDAHULUAN

Perkembangan teknologi komunikasi di Indonesia mengubah lanskap interaksi sosial secara fundamental. Transformasi dari era media massa konvensional menuju era internet dan media baru tidak hanya mengubah cara informasi diproduksi dan dikonsumsi, tetapi juga merekonstruksi pola hubungan interpersonal, salah satunya pola kekerabatan. Di Indonesia, kekerabatan yang kental dengan nilai-nilai komunal, gotong royong, dan hierarki tradisional kini berhadapan dengan karakteristik media baru yang cenderung setara, instan, dan melintasi batas fisik.

 

Secara historis, masyarakat Indonesia memiliki ikatan kekerabatan yang sangat kuat (collectivism). Komunikasi antar anggota kelompok atau kerabat inti dan luas dulunya sangat bergantung pada pertemuan tatap muka atau media surat menyurat yang membutuhkan waktu. Namun, ketika internet masuk dan berkembang, terjadi pergeseran dari khalayak pasif menjadi khalayak yang terkonvergensi. Internet melahirkan ruang digital seperti grup WhatsApp keluarga, media sosial, dan platform berbagi video yang membuat komunikasi kekerabatan tidak lagi terbatas oleh jarak geografis. Keuntungannya, ikatan kekerabatan jarak jauh dapat di rawat setiap saat. Kesialannya, kehadiran gawai sering memicu fenomena phubbing (mengabaikan orang sekitar demi gawai), yang berpotensi meregangkan keintiman emosional saat pertemuan fisik langsung terjadi di dalam kelompok.

 

ISI

Pergeseran pola kekerabatan yang ada di Indonesia salah satunya terjadi karena konvergensi media yang melibatkan penggabungan berbagai dimensi media. Berdasarkan gagasan Grant & Wilkinson (2009), konvergensi media mencakup setidaknya lima dimensi utama yaitu, teknologi, konten multimedia, kepemilikan, kolaborasi, dan koordinasi. Proses konvergensi ini mengubah cara pola kekerabatan di Indonesia, misalnya Konvergensi Teknologi, yang bisa melahirkan ruang komunal baru yang bersifat virtual. Rapat kelompok yang dulunya harus menunggu event besar, kini bisa dikoordinasikan secara instan melalui video grup. Konvergensi ini memfasilitasi kelangsungan nilai-nilai kekerabatan gotong royong dalam ruang digital melintasi batas geografis.

 

Dalam hubungan kekerabatan, interaksi antarkelompok menjadi jauh lebih kaya dan bervariasi melalui konten multimedia. Komunikasi tidak lagi sekedar teks kering, melainkan diperkaya dengan pengiriman foto kegiatan sehari-hari, rekaman suara, hingga video dokumentasi acara salah satu anggota kelompok. Fleksibilitas konten multimedia ini seharusnya membantu mempererat ikatan emosional antar generasi yang terpisah jarak. Integrasi kepemilikan perusahaan media yang berkolaborasi lintas platform seperti koran, TV, dan portal berita online juga berdampak pada pola kekerabatan secara sosial sehingga memunculkan khalayak yang terkonvergensi. Khalayak kini tidak lagi pasif, melainkan bertindak sebagai konsumen sekaligus produsen konten. Dalam konteks kelompok, setiap individu dalam jaringan kekerabatan memiliki panggung medianya sendiri. Ketika salah satu anggota mengadakan, misal acara pernikahan atau sedang tertimpa musibah, mereka tidak lagi bergantung pada dokumentasi luar. Mereka memproduksi narasi mereka sendiri melalui citizen journalism di media sosial. Hal ini meningkatkan rasa kepemilikan dan solidaritas kelompok kerabat, karena setiap anggota dapat berkontribusi langsung menyebarkan dan mengabadikan identitas kolektif anggota kelompok mereka ke ranah digital.

 

Sayangnya, perkembangan media massa dan internet dalam konteks pola kekerabatan di Indonesia, secara moral, menuntut adanya tanggung jawab sosial dan pemenuhan kewajiban etis dari setiap individu maupun institusi media. Jaksa & Pritchard (1994), menjelaskan bahwa etika memberikan makna pada pertanyaan tentang apa yang benar dan yang salah, yang jujur atau tidak jujur. Sehingga, konten-konten multimedia yang berisikan asumsi sementara harus diberikan sensor ketat ketika di publish agar sesuai dengan fakta yang ada di lapangan. Sementara itu, Merril (1974), memandang etika sebagai cabang filsafat yang membimbing wartawan atau citizen journalism dalam konteks pengguna dan pengonsumsi media untuk menentukan mana yang benar dan salah berdasarkan norma yang disepakati. Dalam pola kekerabatan di Indonesia, salah satu masalah terbesar adalah maraknya penyebaran hoax di dalam grup-grup kelompok. Berdasarkan prinsip teori deontologi, setiap anggota kelompok memiliki kewajiban moral mutlak untuk memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya. Menyebarkan informasi palsu demi menjaga eksistensi atau sekedar ikut-ikutan di dalam grup kekerabatan adalah tindakan yang salah secara prinsip teori moral deontologis, karena hal itu melanggar kewajiban moral untuk menyampaikan kebenaran.

 

Mengutip credo etika dari National Communication Association Em Griffin (2006), menekankan bahwa komunikasi yang etis akan meningkatkan harga diri manusia dengan mengembangkan kebenaran, kejujuran, dan tanggung jawab pribadi. Sebaliknya, komunikasi yang tidak etis dapat mengancam kualitas kesejahteraan individu. Menurutnya, kita bersama-sama harus mendorong iklim komunikasi yang saling menghormati dan memahami kebutuhan unik dari setiap komunikator secara individu. Di Indonesia sendiri, pola kekerabatan tradisional sangat hierarkis, yang mana orang yang lebih muda harus menghormati yang lebih tua atau senior. Ketika internet mendemokratisasi ruang komunikasi, benturan etis selalu terjadi ketika anggota kelompok yang lebih muda mengoreksi atau mendebat anggota yang lebih tua, termasuk di ruang digital tanpa mengindahkan sopan santun tradisi. Secara moral, seharusnya masing-masing dari kita, termasuk yang lebih tua atau yang lebih muda , memiliki kewajiban untuk mengenal batasan dan bertanggung jawab atas dampak jangka panjang maupun jangka pendek dari komunikasi dalam pola kekerabatan yang terjadi.

 

McQuail (2010), merumuskan, bahwa media memiliki kewajiban kepada masyarakat, dimana isi media seharusnya benar, akurat, jujur, objektif, dan relevan. Ketika institusi-institusi media konvensional melakukan konvergensi ke internet, mereka wajib mempertahankan standar professional. Di sisi lain, dalam spektrum kekerabatan, masyarakat atau institusi kelompok juga berfungsi sebagai “media kontrol sosial” (Surveilence). Kelompok memiliki kewajiban normatif untuk mendidik anggotanya agar melek media demi melindungi hak-hak publik dan menjaga keharmonisan sosial.

 

KESIMPULAN DAN PENUTUP

Perkembangan media massa dan internet membawa dampak ganda bagi pola kekerabatan di Indonesia. Di satu sisi, teknologi meruntuhkan sekat jarak sehingga komunikasi kekerabatan dapat terjalin secara multimedia, intensif, dan demokratis. Di sisi lain, pergeseran budaya ini melahirkan tantangan etis baru yang berpotensi merusak keharmonisan internal akibat penyebaran hoaks dan degradasi sopan santun komunikasi antar generasi.

 

Oleh karena itu, secara moral, konvergensi media harus diimbangi dengan kesadaran batasan-batasan yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan dari setiap individu dalam suatu kelompok. Menyampaikan informasi yang benar, jujur, dan akurat, serta menjaga iklim komunikasi yang saling menghormati dan menyayangi seperti yang tertulis dalam lirik lagu, Hifdzi Khoir (2025), yang berjudul untukku untukmu juga, menjadi salah satu Kompas moral demi menjaga kelestarian nilai-nilai luhur kekerabatan di era digital.

 

SUMBER REFERENSI :


Billy, K , Sarwono, dkk (2022). Etika Media. Komunikasi Massa. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka

Billy, K, Sarwono, dkk (2022). Perspektif Teoritik Tentang Etika. Komunikasi Massa. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka

Billy, K, Sarwono (2022). Internet dan Konvergensi Media. Komunikasi Massa. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka

Billy, K, Sarwono (2022). Konvergensi Media. Komunikasi Massa. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka

K, Hifdzi (2025). Untukku Untukmu Juga: Music Lyric Video. https://youtu.be/c7xMmAH8GOg?si=ggL1YnF8Asyz-ASy. (Diakses pada 13 Oktober 2025)

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SIAPA DALANG DI BALIK PENYIRAMAN AIR KERAS KEPADA AKTIVIS KONTRAS "ANDRI YUNUS"?

MAY DAY: PERJUANGAN ITU TENTANG PERLAWANAN BUKAN PERAYAAN

JATUH CINTA SEKALIGUS PATAH HATI TERSINGKAT DI DUNIA